Siswa di Cubit Siswa Lain, guru di Subang dijadikan tersangka

By | June 16, 2016

Ilustrasi: Kriminalisasi Guru

Sebuah berita kembali membuat gerah para guru, masalahnya seorang guru seorang guru kelas V SD Kartini di Kelurahan Coklat, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang menjadi korban kriminalisasi oleh orangtua siswa.

Guru bernama R. Darajat Imandi menyebut bahwa kasus yang menimpanya ini terjadi karena dirinya dianggap melakukan pembiaran saat anak didiknya dicubit oleh siswa lain.

Kejadian tersebut berlangsung pada 19 Oktober 2015 lalu, saat itu terjadi perselisihan antara seorang siswa yang terkenal nakal dengan tiga siswi sekelas.

“Anak itu (siswa laki-laki) memukul tiga siswi perempuan. Dia juga nginjek-nginjekin meja siswi itu. Lalu dia dicubit sama (siswa lain) seksi keamanan,” katanya.

Ulah siswa itu tidak berhenti sampai di situ. Saat jam pulang sekolah, siswa laki-laki ini mengancam akan memukuli tiga siswi tersebut.

“Saya mendapat laporan dari siswi yang diancam. Ya saya nasihati anaknya (yang ngancam), jangan seperti itu. Jangan ngancam-ngancam, jangan berantem, ini tempat belajar,” ujarnya.

Menyikapi ancaman itu, dirinya pun langsung berinisiatif mengantarkan tiga siswi tersebut pulang ke rumahnya masing-masing.

“Tapi ketika di motor, anaknya ngejar lagi, mau mukulin siswi tadi. Saya gas saja biar nggak terkejar,” katanya.

Keesokan harinya, orangtua siswa laki-laki datang karena tidak terima dengan sikapnya. Sambil memarahinya, kakek siswa tersebut pun mengancam akan melaporkannya ke polisi.

“Setelah mengupayakan damai, orangtuanya meminta uang Rp15 juta. Kalau nggak dikasih, akan melaporkan ke polisi,” katanya.

Merasa tidak bersalah, Darajat pun tidak memenuhi permintaan tersebut, hingga akhirnya kembali dilakukan upaya damai.

“Saya dan siswa saya sampai dipanggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Hingga akhirnya saya menerima surat penetapan sebagai tersangka dari Polres Subang pada hari ini (Rabu, 15 Juni 2016),” katanya.

Darajat merasa prihatin dengan adanya kejadian ini, karena hanya akan menjadikan guru tertekan.

“Guru tertekan. Kita jadi takut. Guru dikriminalisasi, kabayang Indonesia bakal bagaimana. Ka payuna bakal bahaya. (Ke depannya bakal bahaya),” pungkasnya.

Sumber : fokusjabar.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *